Kamis, 12 November 2009

SALAH SATU ASPEK PENGGUNAAN GIS UNTUK PENGELOLAHAN HUTAN

Semakin tingginya laju kerusakan hutan di Indonesia, menjadi keprihatinan kita bersama sebagai bangsa Indonesia. Kinerja pelaku konservasi hutan di Indonesia tercoreng di muka dunia dengan berbagai predikat yang memalukan. Berbagai upaya telah ditempuh untuk mencoba menyelamatkan keberadaan hutan Indonesian berikut sumberdaya alam yang ada di dalamnya. Termasuk diantaranya adalah dengan penunjukan kawasan konservasi yang hingga kini telah mencapai luasan …..juta hektar. Bahkan 50 diantaranya telah ditunjuk menjadi kawasan Taman Nasional. Konsekwensi penunjukan kawasan-kawasan konservasi tersebut sebagai Taman Nasional adalah keharusan untuk melakukan pengelolaan konservasi yang semakin intensif. Intensitas pengelolaan kawasan konservasi ini menuntut tersedianya Sumberdaya Manusia yang memiliki kompetensi tinggi di bidang konservasi dan bidang yang terkait di dalamnya. Saat ini gap antara freshgraduate dan kebutuhan skill di lapangan sangat jauh.

Secara umum GIS (Geographical Information System) atau dikenal pula dengan SIG (Sistem Informasi Geografis) merupakan sistem infomasi berbasis komputer yang menggabungkan antara unsur peta (geografis) dan informasinya tentang peta tersebut (data atribut) yang dirancang untuk mendapatkan, mengolah, memanipulasi, analisa, memperagakan dan menampilkan data spatial untuk menyelesaikan perencanaan,mengolah dan meneliti permasalahan.
Beberapa contoh software GIS adalah
a. ArcView,
b. MapInfo,
c. ArcInfo untuk SIG; CAD system untuk entry graphic data; dan ERDAS serta ER-MAP untuk proses remote sensing data.
d. Modul dasar perangkat lunak SIG: modul pemasukan dan pembetulan data, modul penyimpanan dan pengorganisasian data, modul pemrosesan dan penyajian data, modul transformasi data, modul interaksi dengan pengguna (input query)
Perlunya Aplikasi GIS Partisipatif di Indonesia Secara Menyeluruh

Fakta di atas menunjukkan kegiatan yang menggunakan pendekatan GIS Partisipatif telah dilakukan di Indonesia. Pemikiran selanjutnya adalah bagaimana kegiatan ini dilakukan secara menyeluruh dan dilakukan secara bersama dengan melakukan kolaborasi antara masyarakat, LSM, organisasi pemerintah, perguruan tinggi. Dukungan dari organisasi terkait dengan perencanaan, konservasi dan pemberdayaan masyarakat sangat penting dalam mensukseskan kegiatan GIS sebagai salah satu tools yang mengintegrasikan berbagai kepentingan dalam masyarakat.

Sistem Informasi Geografis (SIG) dipergunakan untuk membentuk basis data kehutanan yang mantap sebagai bahan pengambilan keputusan kebijaksanaan yang berkaitan dengan areal atau kawasan hutan. Karena data yang dikelola dalam basis data ini berkaitan dengan ruang atau posisi geografis data dimaksud, maka data ini disebut data spasial. Dengan adanya SIG maka data dan informasi kehutanan baik yang bersifat deskriptif, maupun numerik/angka akan tertata dengan baik dan terpetakan Secara rapi menggunakan teknologi digital, sehingga memudahkan kita untuk memperbarui dan mengaktualkan datanya (editing), serta mempergunakannya secara akurat dan cepat untuk keperluan analisis.
Penggunaan SIG dalam analisa spasial utamanya digunakaan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pencarian lokasi dan luas areal yang sesuai dengan kriteria tertentu; atau pencarian data dan informasi yang ada pada suatu tempat atau lokasi tertentu. Sebagai contoh bila dicari suatu lokasi pada suatu propinsi yang cocok untuk pemukiman transmigrasi dengan kriteria bertanah subur untuk tanaman pangan, mempunyai jarak yang dekat dengan prasarana perhubungan (jalan dan sungai). serta tidak berada di dalam kawasan hutan tetap,

Contoh paling mudah aplikasi yang membutuhkan GIS Partisipatif misalnya dalam proses pemetaan tanah masyarakat di Aceh Pasca Tsunami. Kegiatan community land mapping menjadi program dari berbagai lembaga pemerintah dan LSM di Aceh, dengan menggunakan pendekatan GIS Partisipatif tentunya usaha ini bisa dilakukan lebih mudah. Usaha yang paling penting adalah melakukan proses kerjasama/kolaborasi antar semua pihak yang berkepentingan dalam proses pemetaan tanah masyarakat.

Contoh lain misalnya adanya kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap di Sumatera dan Kalimantan dapat diidentifikasikan secara mudah dengan pendekatan GIS Partisipatif melalui proses penentuan lokasi kebakaran yang melibatkan masyarakat, pihak perkebunan dan HPH. Masih banyak peluang aplikasi GIS Partisipatif lainnya yang perlu dilakukan di Indonesia dalam rangka menuju proses pembangunan masyarakat yang lebih baik di masa yang akan datang. (*)
Alat mengolah data/bukti pemeriksaan. Teknologi GIS dan RS dapat
dimanfaatkan untuk membantu auditor dalam mengolah data terkait dengan penggundulan hutan, penebangan di luar areal yang diijinkan, tumpang tindih lahan (perkebunan dan hutan.
sumber:
http://taufikhermawan.blogspot.com/
http://bdpunib.org/jipi/artikeljipi/edkhus2/452.pdfGIS-Partisipatif:
http://lifestyle.id.finroll.com/component/content/article/10-lain-lain/121-r.html
http://gisresetutor.blogspot.com/2009/02/sig-gis-definisi.html
http://dennycharter.wordpress.com/2008/05/12/gis-definisi/
http://dennycharter.wordpress.com/2008/05/12/gis-definisi/
http://www.forestpedia.org/Pemetaan_Hutan_dan_Sistem_Informasi_Geografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar